Minggu, 16 Maret 2014

Mitos Dari Cirebon - INDONESIA

Mitos ruas jalan yang pantang dilalui pejabat  (Cirebon, jawa barat )

Assalamualaikum Wr. Wb.

Negara Indonesia yang kaya dengan budaya dan sumber daya alam yang melimpah ini ternyata juga menyimpan berbagai kisah misteri. Seperti di jawa barat yang mempunyai banyak mitos.

Dan di blog saya yang kali ini, saya akan menceritakan salah satu mitosnya yaitu tentang “Mitos ruas jalan yang pantang dilalui pejabat” yang berasal dari daerah cirebon, tanah kelahiran saya sendiri..

Sedikit tentang mitos,

Secara sederhana, mitos adalah suatu informasi yang sebenarnya “salah” tetapi dianggap “benar” karena eksistensinya yang telah beredar dari generasi ke generasi. Begitu luasnya suatu mitos beredar di masyarakat sehingga masyarat tidak menyadari bahwa informasi yang diterimanya itu tidak benar. Karena begitu kuatnya keyakinan masyarakat terhadap suatu mitos tentang sesuatu hal, sehingga mempengaruhi perilaku masyarakat, khususnya didaerah dimana mitos itu berterbangan bebas.

Kembali pada mitos yang saya akan bahas..

Beberapa ruas jalan di Kota Cirebon, Jawa Barat, konon pantang dilalui oleh pejabat. Benarkah pejabat yang nekat lewat jalan itu akan lengser dari jabatannya, tanpa sebab yang jelas?

Mitos ini berkembang sejak lama di kalangan warga Cirebon. Turun temurun warga memercayai bahwa ada sejumlah ruas jalan di Cirebon yang sangat pantang dilalui oleh pejabat. Terutama pejabat asal luar daerah, lebih-lebih yang tidak memiliki “trah” atau keturunan dari Kanjeng Sunan Gunung Jati atau Syeikh Syarif Hidayattullah. Pejabat yang tidak memercayai mitos lalu nekad melintas di “jalan terlarang”, “Maka niscaya dia akan turun jabatan, entah karena dilengserkan oleh atasan atau sebab lainnya,” tutur Ny Rumini (65) saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

Ibunda seorang dokter kepala sebuah rumah sakit ternama di Bogor ini lebih lanjut bercerita, salah satu ruas jalan yang paling pantang dilintasi oleh pejabat adalah Jalan Karanggetas. Konon, berdasarkan tinutur leluhurnya, pantangan tersebut muncul dari cerita kuno di jaman Wali Sanga dulu. Saat itu di daerah tersebut bermukim seorang sakti mandraguna yang mengelana ke berbagai negeri untuk menuntut ilmu. “Beliau mencari guru spiritual. Dengan catatan sang guru harus mampu mengalahkan kesaktiannya dulu,” tutur Ny Rumini seraya menceritakan, bahwa saat itu tidak ada seorang pun di Tatar Cirebon yang mampu mengalahkan kesaktian sang pengelana yang di kemudian hari dikenal dengan nama Syeikh Magelung Sakti.

Entah berapa banyak tetua dan pendekar Cirebon yang dihadapi oleh Syeikh Magelung Sakti, namun tidak seorang pun yang mampu menumbangkan kesaktiannya. Padahal saat itu diceritakan Syeikh Magelung Sakti tidak menunjukkan kedigjayaan dalam bentuk jurus-jurus silat atau semacamnya, tetapi hanya meminta lawan untuk memotong/memangkas rambut panjangnya.

Alkisah, hadirnya pengelana sakti di Cirebon terdengar juga oleh Sunan Gunung Jati. Akhirnya melalui perantara seorang abdi setianya, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayattullah dipertemukan dengan Syeikh Magelung Sakti. Konon saat mereka bertemu, Syeikh Magelung Sakti sempat memandang sebelah mata kepada Sunan Gunung Jati yang memang saat itu berpenampilan basajan (sangat sederhana). Beliau sama sekali tidak menunjukkan kemampuan dirinya sebagai Waliyullah. Namun siapa sangka di balik sosok Sunan Gunung Jati yang basajan itu sarat ilmu luar biasa yang mampu menundukkan kesaktian Syeikh Magelung Sakti. “Menurut tinutur leluhur, Kanjeng Sunan Gunung Jati bisa memangkas gelungan rambut Syeikh Magelung Sakti hanya dengan menggunakan jari tangan,” lanjut Ny Rumini dengan logat cirebonan yang kental. Syeikh Magelung Sakti pun akhirnya menjadi pengikut Sunan Gunung Jati.

Sejak peristiwa itulah daerah tersebut dikenal dengan nama Karanggetas (Karang = batu karang yang memiliki tingkat kekerasan lebih dibanding batu biasa, getas = putus, potong). Sayangnya pada kesempatan itu Ny Rumini, maupun sumber-sumber lainnya, tidak menyebutkan mengapa lahir “tulah” di kemudian hari Jalan Karanggetas pantang dilintasi pejabat.

Dari penelusuran lain diperoleh keterangan, selain ruas Jalan Karanggetas masih ada ruas jalan di Cirebon yang konon pantang dilintasi oleh pejabat. Ruas jalan tersebut adalah Jalan Jabang Bayi (Jalan Kesambi), Jalan By Pass (sekitar Obyek Wisata Gua Sunyaragi), persimpangan Jalan Winaon – Jalan Karanggetas. Benar tidaknya cerita berbau mitos tersebut, terserah kepada sang pembaca. Yang jelas pejabat enggan melintas di ruas jalan itu konon adalah pejabat-pejabat yang memiliki “agem-agem”, bekal dari pendamping spiritual (baca: dukun) pribadi mereka! Wallahu’alam bissawab

Demikian cerita singkat tentang Mitos dari Daerah Cirebon yang dapat saya sampaikan..

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.





Sumber Cerita :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar