Mitos ruas jalan yang pantang dilalui
pejabat (Cirebon, jawa barat )
Assalamualaikum Wr. Wb.
Negara Indonesia yang
kaya dengan budaya dan sumber daya alam yang melimpah ini ternyata juga
menyimpan berbagai kisah misteri. Seperti di jawa barat yang mempunyai banyak
mitos.
Dan di blog saya yang kali ini,
saya akan menceritakan salah satu mitosnya yaitu tentang “Mitos ruas jalan yang pantang dilalui pejabat” yang berasal dari daerah cirebon, tanah kelahiran saya
sendiri..
Sedikit tentang mitos,
Secara sederhana, mitos adalah
suatu informasi yang sebenarnya “salah” tetapi dianggap “benar” karena
eksistensinya yang telah beredar dari generasi ke generasi. Begitu luasnya
suatu mitos beredar di masyarakat sehingga masyarat tidak menyadari bahwa
informasi yang diterimanya itu tidak benar. Karena begitu kuatnya keyakinan
masyarakat terhadap suatu mitos tentang sesuatu hal, sehingga mempengaruhi
perilaku masyarakat, khususnya didaerah dimana mitos itu berterbangan bebas.
Kembali pada mitos yang saya akan bahas..
Beberapa ruas jalan di Kota Cirebon, Jawa Barat, konon pantang
dilalui oleh pejabat. Benarkah pejabat yang nekat lewat jalan itu akan lengser
dari jabatannya, tanpa sebab yang jelas?
Mitos ini berkembang sejak lama di kalangan warga Cirebon. Turun
temurun warga memercayai bahwa ada sejumlah ruas jalan di Cirebon yang sangat
pantang dilalui oleh pejabat. Terutama pejabat asal luar daerah, lebih-lebih
yang tidak memiliki “trah” atau keturunan dari Kanjeng Sunan Gunung Jati atau
Syeikh Syarif Hidayattullah. Pejabat yang tidak memercayai mitos lalu nekad
melintas di “jalan terlarang”, “Maka niscaya dia akan turun jabatan, entah
karena dilengserkan oleh atasan atau sebab lainnya,” tutur Ny Rumini (65) saat
ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.
Ibunda seorang dokter kepala sebuah rumah sakit ternama di Bogor
ini lebih lanjut bercerita, salah satu ruas jalan yang paling pantang dilintasi
oleh pejabat adalah Jalan Karanggetas. Konon, berdasarkan tinutur leluhurnya,
pantangan tersebut muncul dari cerita kuno di jaman Wali Sanga dulu. Saat itu
di daerah tersebut bermukim seorang sakti mandraguna yang mengelana ke berbagai
negeri untuk menuntut ilmu. “Beliau mencari guru spiritual. Dengan catatan sang
guru harus mampu mengalahkan kesaktiannya dulu,” tutur Ny Rumini seraya
menceritakan, bahwa saat itu tidak ada seorang pun di Tatar Cirebon yang mampu
mengalahkan kesaktian sang pengelana yang di kemudian hari dikenal dengan nama
Syeikh Magelung Sakti.
Entah berapa banyak tetua dan pendekar Cirebon yang dihadapi oleh
Syeikh Magelung Sakti, namun tidak seorang pun yang mampu menumbangkan
kesaktiannya. Padahal saat itu diceritakan Syeikh Magelung Sakti tidak
menunjukkan kedigjayaan dalam bentuk jurus-jurus silat atau semacamnya, tetapi
hanya meminta lawan untuk memotong/memangkas rambut panjangnya.
Alkisah, hadirnya pengelana sakti di Cirebon terdengar juga oleh
Sunan Gunung Jati. Akhirnya melalui perantara seorang abdi setianya, Sunan
Gunung Jati atau Syarif Hidayattullah dipertemukan dengan Syeikh Magelung
Sakti. Konon saat mereka bertemu, Syeikh Magelung Sakti sempat memandang
sebelah mata kepada Sunan Gunung Jati yang memang saat itu berpenampilan basajan (sangat
sederhana). Beliau sama sekali tidak menunjukkan kemampuan dirinya sebagai
Waliyullah. Namun siapa sangka di balik sosok Sunan Gunung Jati yang basajan
itu sarat ilmu luar biasa yang mampu menundukkan kesaktian Syeikh Magelung
Sakti. “Menurut tinutur leluhur, Kanjeng Sunan Gunung Jati bisa memangkas
gelungan rambut Syeikh Magelung Sakti hanya dengan menggunakan jari tangan,”
lanjut Ny Rumini dengan logat cirebonan yang kental. Syeikh Magelung Sakti pun
akhirnya menjadi pengikut Sunan Gunung Jati.
Sejak peristiwa itulah daerah tersebut dikenal dengan nama
Karanggetas (Karang = batu karang yang memiliki tingkat kekerasan lebih
dibanding batu biasa, getas = putus, potong). Sayangnya pada kesempatan itu Ny
Rumini, maupun sumber-sumber lainnya, tidak menyebutkan mengapa lahir “tulah”
di kemudian hari Jalan Karanggetas pantang dilintasi pejabat.
Dari penelusuran lain diperoleh keterangan, selain ruas Jalan
Karanggetas masih ada ruas jalan di Cirebon yang konon pantang dilintasi oleh
pejabat. Ruas jalan tersebut adalah Jalan Jabang Bayi (Jalan Kesambi), Jalan By
Pass (sekitar Obyek Wisata Gua Sunyaragi), persimpangan Jalan Winaon – Jalan
Karanggetas. Benar tidaknya cerita berbau mitos tersebut, terserah kepada sang
pembaca. Yang jelas pejabat enggan melintas di ruas jalan itu konon adalah
pejabat-pejabat yang memiliki “agem-agem”, bekal dari pendamping spiritual
(baca: dukun) pribadi mereka! Wallahu’alam bissawab
Demikian cerita singkat tentang Mitos dari
Daerah Cirebon yang dapat saya sampaikan..
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Sumber Cerita :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar