Selasa, 15 November 2016

 Kecerdasaan Buatan  Sistem Pakar (Tugas Kelompok)

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxpPfaKuOc7WPHiFn_NWN4ZmgIisuovlr1TfTc13z_JruHc2IeHcj5TF6DjDvuHuzmz0yhGjWVUziDbLayNx1tbPpkZZIvmnGhA1hrQ2S0M7Mrj9qsHlesuXSx7wr6Eol9lNS_K5G6rmg/s1600/logo_gunadarma2.jpg













Disusun Oleh:
Nama                          :  Ilham Falah Bimantoro (14513270)
                                       Munik Mutiara (16513210)
Kelas                           :  4PA10
Jurusan                      :  Psikologi
Dosen                          :  Jessica Permatasari


DEPOK
2016




DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ………………………………………………………………..      

BAB I
Pendahuluan ...................................................................................................
BAB II
Kecerdasaan Buatan ............................................................................
Sistem Pakar ......................................................................................

BAB III
Kelebihan .........................................................................................................
Kekurangan.......................................................................................................



















BAB I
Pendahuluan
Perkembangan komputer dewasa ini telah mengalami banyak perubahan yang sangat pesat, seiring dengan kebutuhan manusia yang semakin banyak dan kompleks. Komputer yang pada awalnya hanya digunakan oleh para akademisi dan militer, kini telah digunakan secara luas di berbagai bidang, misalnya: Bisnis, Kesehatan, Pendidikan, Psikologi, Permainan dan sebagainya. Hal ini mendorong para ahli untuk semakin mengembangkan komputer agar dapat membantu kerja manusia atau bahkan melebihi kemampuan kerja manusia. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence merupakan bagian dari ilmu komputer yang membuat agar mesin (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan oleh manusia. Sistem cerdas (intelligent system) adalah sistem yang dibangun dengan menggunakan teknik-teknik artificial intelligence. Salah satu yang dipelajari pada kecerdasan buatan adalah teori kepastian dengan menggunakan teori Certainty Factor (CF) (Kusumadewi, 2003).
Sistem Pakar (Expert System) adalah program berbasis pengetahuan yang menyediakan solusi-solusi dengan kualitas pakar untuk problema-problema 2 Rohman & Fauzijah – Aplikasi Sistem Pakar untuk Menentukan Jenis Gangguan pada Anak dalam suatu domain yang spesifik. Sistem pakar merupakan program komputer yang meniru proses pemikiran dan pengetahuan pakar dalam menyelesaikan suatu masalah tertentu. Implementasi sistem pakar banyak digunakan dalam bidang psikologi karena sistem pakar dipandang sebagai cara penyimpanan pengetahuan pakar pada bidang tertentu dalam program komputer sehingga keputusan dapat diberikan dalam melakukan penalaran secara cerdas. Irisan antara psikologi dan sistem pakar melahirkan sebuah area yang dikenal dengan nama cognition & psycolinguistics. Umumnya pengetahuannya diambil dari seorang manusia yang pakar dalam domain tersebut dan sistem pakar itu berusaha meniru metodelogi dan kinerjanya (performance) (Kusumadewi, 2003).
 Salah satu implementasi yang diterapkan sistem pakar dalam bidang psikologi, yaitu untuk sistem pakar menentukan jenis gangguan perkembangan pada anak. Anak-anak merupakan fase yang paling rentan dan sangat perlu diperhatikan satu demi satu tahapan perkembangannya. Contoh satu bentuk gangguan perkembangan adalah conduct disorder. Conduct disorder adalah satu kelainan perilaku dimana anak sulit membedakan benar salah atau baik dan buruk, sehingga anak merasa tidak bersalah walaupun sudah berbuat kesalahan. Dampaknya akan sangat buruk bagi perkembangan sosial anak tersebut.
Tujuan dari jurnal ini adalah menghasilkan suatu sistem yang dapat digunakan untuk melakukan diagnosis gangguan pada perkembangan anak yang mampu membuat suatu keputusan yang sama, sebaik dan seperti pakar.























BAB II
v  Kecerdasaan Buatan
Kecerdasan buatan dapat didefinisikan sebagai mekanisme pengetahuan yang ditekankan pada kecerdasan pembentukan dan penilaian pada alat yang menjadikan mekanisme itu, serta membuat komputer berpikir secara cerdas. Kecerdasan buatan juga dapat didefinisikan sebagai salah satu bagian ilmu komputer yang membuat agar mesin (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan manusia.

Teknologi kecerdasan buatan dipelajari dalam bidang-bidang, seperti: robotika, penglihatan komputer (computer vision), jaringan saraf tiruan (artifical neural system), pengolahan bahasa alami (natural language processing), pengenalan suara (speech recognition), dan sistem pakar (expert system).

v  Sistem Pakar
 Sistem pakar (expert system) secara umum adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. Atau dengan kata lain sistem pakar adalah sistem yang didesain dan diimplementasikan dengan bantuan bahasa pemrograman tertentu untuk dapat menyelesaikan masalah seperti yang dilakukan oleh para ahli. Diharapkan dengan sistem ini, orang awam dapat menyelesaikan masalah tertentu baik ‘sedikit’ rumit ataupun rumit sekalipun ‘tanpa’ bantuan para ahli dalam bidang tersebut. Sedangkan bagi para ahli, sistem ini dapat digunakan sebagai asisten yang berpengalaman. Sistem pakar merupakan cabang dari Artificial Intelligence (AI) yang cukup tua karena sistem ini telah mulai dikembangkan pada pertengahan tahun 1960. Sistem pakar yang muncul pertama kali adalah General-purpose problem solver (GPS) yang dikembangkan oleh Newl dan Simon. Sampai saat ini sudah banyak sistem pakar yang dibuat, seperti MYCIN, DENDRAL, XCON & XSEL, SOPHIE, Prospector, FOLIO, DELTA, dan sebagainya (Kusumadewi, 2003). Perbandingan sistem konvensional dengan sistem pakar sebagai berikut (Kusumadewi, 2003):
a.       Sistem Konvensional
1.       Informasi dan pemrosesan umumnya digabung dalam satu program sequential
2.      Program tidak pernah salah (kecuali pemrogramnya yang salah)
3.      Tidak menjelaskan mengapa input dibutuhkan atau bagaimana hasil diperoleh
4.      Data harus lengkap
5.      Perubahan pada program merepotkan 6. Sistem bekerja jika sudah lengkap.
b.       Sistem Pakar
1. Knowledge base terpisah dari mekanisme pemrosesan (inference)
2. Program bisa melakukan kesalahan
3. Penjelasan (explanation) merupakan bagian dari ES
4. Data tidak harus lengkap
5. Perubahan pada rules dapat dilakukan dengan mudah
6. Sistem bekerja secara heuristik dan logik

Suatu sistem dikatakan sistem pakar apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Kusumadewi, 2003):
1.      Terbatas pada domain keahlian tertentu
2.      Dapat memberikan penalaran untuk data-data yang tidak pasti
3.      Dapat mengemukakan rangkaian alasan-alasan yang diberikannya dengan cara yang dapat dipahami
4.      Berdasarkan pada kaidah atau rule tertentu
5.      Dirancang untuk dikembangkan sacara bertahap
6.      Keluarannya atau output bersifat anjuran















BAB III

Kelebihan :
1.      Masyarakat awam non-pakar dapat memanfaatkan keahlian di dalam bidang tertentu tanpa kesadaran langsung seorang pakar
2.      Meningkatkan produktivitas kerja, yaitu bertambahnya efisiensi pekerjaan tertentu serta hasil solusi kerja
3.      Penghematan waktu dalam menyelesaikan masalah yang kompleks
4.      Memberikan penyederhanaan solusi untuk kasus-kasus yang kompleks dan berulang-ulang
5.      Pengetahuan dari seorang pakar dapat dikombinasikan tanpa ada batas waktu
6.      Memungkinkan penggabungan berbagai bidang pengetahuan dari berbagai pakar untuk dikombinasikan.
Kekurangan :
1.      Daya kerja dan produktivitas manusia menjadi berkurang karena semuanya dilakukan secara otomatis oleh sistem
2.      Pengembangan perangkat lunak sistem pakar lebih sulit dibandingkan dengan perangkat lunak konvensional.











Daftar Pustaka :

http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/33478255/bta_3_1.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1477832464&Signature=60smAMO%2FCrjL7Ma6V9tIMR95V9A%3D&response-content-disposition=inline%3B%20filename%3DRANCANG_BANGUN_APLIKASI_SISTEM_PAKAR_UNT.pdf

Analisis test IQ manual dan test IQ berbasis Komputer (Tugas Individu)

Analisis test IQ manual dan test IQ berbasis Komputer
Tes intelegensi atau tes IQ adalah suatu kegiatan pengukuran atau penilaian melalui upaya yang sistematik untuk mengungkap aspek-aspek psikologi tertentu dari individu. Tes intelegensi sering digunakan berbagai kalangan seperti di sekolah dalam menentukan jurusan atau di perkantoran dalam seleksi pegawai. Tes intelegensi ini dapat dilakukan secara manual dan komputer .

 Berikut ini adalah penjelasan mengenai tes IQ manual dan tes IQ berbasis komputer:
a.      Tes IQ yang biasa dilakukan adalah secara manual. Tes ini biasanya dilakukan secara individu atau kelompok disuatu ruangan. Peserta diminta menjawab pertanyaan terbuka atau tertutup. Jawaban bisa ditulis oleh testee maupun tester. Setelah tes selesai kemudian tester melakukan scoring. Pada tahap scoring ini tester membutuhkan waktu lama, karena tester harus memeriksa satu per satu jawaban yang dijawab testee. Setelah dilakukan scoring dilakukan interpretasi oleh psikolog.
·         Kelebihan dari tes IQ manual, akan lebih banyak orang mengerti dengan instruksi pada test IQ manual dibandingkan dengan test IQ berbasis komputer.
·         Kelemahannya adalah membutukan waktu yang lama untuk mendapatkan hasil scoring.

b.      Tes IQ yang dilakukan melalui komputer dapat memudahkan testee dalam pengisian tes, karena testee tidak diharuskan membawa alat tulis. Testee diminta untuk mengerjaan pertanyaan terbuka atau tertutup melalui sebuah aplikasi di komputer. Setelah testee menjawab semua pertanyaan yang ada, barulah tester mulai melakukan scoring melalui computer pula. Pengerjaan dan proses scoring sangatlah mudah, hanya dengan beberapa klik saja sudah mendapatkan hasil. Tes IQ melalui komputer sudah terprogram dengan baik dan meminimalisir kesalahan saat mengerjakan tes IQ.
·         Kelebihannya dari test IQ berbasis komputer tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hasil scoring dan testee tidak perlu menyiapkan alat tulis.

·         Kelemahannya adalah tidak semua orang mengerti dengan instruksi test IQ berbasis komputer, salah satu faktor yang menyebabkan adalah usia.

Jumat, 24 Juni 2016

THERAPY BEHAVIOR

THERAPY BEHAVIOR
A.    Pengertian dan Konsep Utama Behavior Therapy
Behavior Therapy (behavior modification) merupakan sebuah pendekatan psikoterapi didasarkan pada teori pembelajaran yang bertujuan untuk menyembuhkan sakit kejiwaan (psikopatologi) dengan teknik-teknik yang dirancang untuk memperkuat perilaku yang diinginkan dan menyingkirkan perilaku yang tidak diinginkan (Wikipedia, 2011).
Selain itu Terapi perilaku adalah istilah yang mengacu, baik itu pada psiko, perilaku analitis, atau kombinasi dari dua terapy. Dalam arti luas, metode yang terfokus pada salah satu perilaku adil atau kombinasi dengan pikiran dan perasaan yang mungkin jadi penyebab.
Menurut Marquis, terapi tingkah laku adalah suatu teknik yang menerapkan informasi-informasi ilmiah guna menemukan pemecahan masalah manusia. Jadi tingkah laku berfokus pada bagaimana orang-orang belajar dan kondisi-kondisi apa saja yang menentukan tingkah laku mereka.
Istilah terapi tingkah laku atau konseling behavioristik berasal dari bahasa Inggris Behavior Counseling yang untuk pertama kali digunakan oleh Jhon D. Krumboln (1964). Krumboln adalah promotor utama dalam menerapkan pendekatan behavioristik terhadap konseling, meskipun dia melanjutkan aliran yang sudah dimulai sejak tahun 1950, sebagai reaksi terhadap corak konseling yang memandang hubungan antar pribadi, antara konselor dan konseling sebagai komponen yang mutlak diperlukan dan sekaligus cukup untuk memberikan bantuan psikologis kepada seseorang. Aliran baru ini menekankan bahwa hubungan antar pribadi itu tidak dapat diteliti secara ilmiah, sedangkan perubahan nyata dalam prilaku konseling memungkinkan dilakukan penelitian ilmiah.


B.     Tujuan Behavior Therapy
·         Untuk menyembuhkan sakit kejiwaan (psikopatologi) dengan teknik-teknik yang dirancang untuk memperkuat perilaku yang diinginkan dan menyingkirkan perilaku yang tidak diinginkan.
·         Pemeliharaan perubahan perilaku
·         Menciptakan proses baru bagi proses belajar, karena segenap tingkah laku adalah dipelajari.
Ada beberapa kesalahpahaman tentang tujuan terapi tingkah laku, antara lain :
·         Bahwa tujuan terapi semata-mata menghilangkan gejala suatu gangguan tingkah laku dan setelah gejala itu terhapus, gejala baru akan muncul karena penyebabnya tidak ditangani.
·         Tujuan klien ditentukan dan dipaksanakan oleh terapi tingkah laku

C.    Ciri-Ciri Behavior
Adapun ciri-ciri terapi tingkah laku itu sendiri adalah :
1.      Pemusatan perhatian pada tingkah laku yang tampak dan spesifik
2.      Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment
3.      Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah
4.      Penaksiran obyektif atau hasil-hasil terapi.

D.    Kegunaan Behavior Therapy
Terapi tigkah laku dapat digunakan dalam menyembuhkan berbagai gangguan tingkah laku dari yang sederhana hingga yang kompleks, baik individu atau kelompok. Di samping itu terapi tingkah laku dapat dilaksanakan oleh guru, pelatih, orang tua atau pasien itu sendiri.

E.     Teknik-teknik Behavior Therapy
Terapi perilaku didasarkan pada teori pengkondisian klasik. Premis adalah bahwa semua perilaku dipelajari, faulty learning/ pembelajaran yang salah (yaitu conditioning) merupakan penyebab perilaku abnormal. Oleh karena itu individu harus belajar perilaku yang benar atau diterima. Sebuah fitur penting dari terapi perilaku adalah fokus pada masalah saat ini dan perilaku, dan upaya untuk menghapus perilaku bermasalah  pasien.
Ada lima macam teknik terapi tingkah laku, yaitu :
1.      Desensitisasi Sistematik
Teknik ini digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negative dan menyertakan pemunculan tingkahlaku yang hendak dihapus.
2.      Teknik Inflosif dan Pembanjiran
Teknik ini berlandasakan kepada paradigma penghapusan eksperimental. Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus dalam kondisi berulang-ulang tanpa memberikan penguatan.
3.      Latihan Asertif
Teknik ini diterapkan pada individu yang mengalami kesulitan menerima kenyataan bahwa menegaskan diri adalah tindakan yang layak benar. Latihan atau teknik ini membantu orang yang :
·         Tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung
·         Memiliki kesulitan untuk mengatakan tidak
·         Dan bentuk lainnya
4.      Teknik Aversi
Teknik ini digunakan untuk meredakan gangguan behavioral yang spesifik dengan stimulus yang menyakitkan sampai stimulus yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Stimulus aversi ini biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang memualkan.
5.       Pengkondisian Operan
Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang mencari ciri organisme yang aktif, yang beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat.

F.     Kelebihan dan Kekurangan Behavior Therapy
a.      Kelebihan
·         Pendekatan ini menekankan bahwa proses konseling dipandang sebagai proses belajar yang akan menghasilkan perubahan perilaku konseli secara nyata.
·         Pendekatan ini menunjukkan fleksibilitas yang besar, karena tujuan konseling dan prosedur yang diikuti untuk sampai pada tujuan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan konseli.
·         Pendekatan ini akan membantu individu untuk bisa membekali dirinya untuk mencegah timbulnya persoalan kejiwaan.

b.      Kelemahan
·         Pendekatan ini kurang bermanfaat untuk kasus-kasus yang berkaitan dengan kehilangan makna dalam hidup. Dengan kata lain, konseling ini hanya menangani kasus berupa cara bertingkah laku yang salah/tidak sesuai.










Sumber :
Gunarsa, Singgih D. 2004. Bunga Rampai Psikologi Perkembangan dari Anak sampai Usia Lanjut. Jakarta : SDG
Gerald Corey, Konseling dan Psikoterapi,  Refika Aditama, 2009, Bandung
Michel Hersen, Encyclopedia of Psychotherapy, Pacific University, Forest Grove, Oregon. AP.

                                   

Sabtu, 09 April 2016

terapi humanistik eksistensial

Terapi Humanistik Eksistensial


Terapi Humanistik Eksistensial
  Terapi Humanistik Eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab saling berkaitan.

A. Konsep-konsep utama :
1.      Kesadaran diri
   Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu.
2.      Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan
  Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing).

B. Unsur-unsur Eksistensial-humanistik
Tujuan eksistensial-humanistik
a. Agar klien mengalami keberadaanya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan   potensi-potensi
b. Meluaskan kesadaran diri klien dan meningkatkan kesanggupan pilihannya.
c. Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri.

C. Teknik terapi
  Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Metode-metode yang berasal dari terapi gestalt dan analisis transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam pendekatan eksistensial humanistik.

     jenis terapi ini kebanyakan di gunakan karena Terapis dalam terapi humanistik eksistensial mempunyai tugas utama, yaitu berusaha untuk memahami klien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Dimana tekhnik yang digunakannya itu selalui mendahului suatu pemahaman yang mendalam terhadap kliennya. Prosedur yang digunakan bisa bervariasi, tidak hanya dari klien yang satu ke klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama.

Sumber:
Corey, G., (1999). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama

psikologi humanistik

Latar belakang psikologi humanistik

    Psikologi Humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an. Psikologi Humanistik berawal dari sebuah pemikiran yang dicetuskan oleh kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan, akan tetapi pisikologi ini mulai dikenal atau digunakan sekitar tahun 1958 oleh john cohen. 
    Psikologi humanistik merupakan cabang psikologi yang beperan  sebagai kekuatan ketiga  setelah behaviorisme dan psikoanalisis. Psikologi humanistik pada dasarnya lahir sebagai kritik terhadap psikologi yang lebih menekankan pada faktor ekstenal (behaviorisme) dan tidak sadar (psikoanalisis). Psikologi humanistik beranggapan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan tidak hanya bepedoman pada perilaku luar atau yang bersifat objektif, akan tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku yang besifat subjektif yang ada pada etiap individu seperti pengalaman batin, sifat-sifat individu,keyakinan, kepercayaan yang ada dalam dirinya, selain itua psikologi humanistik lebih menekankan teori kemanusiaan atau aktualisasi manusia yaitu dengan memaksimalkan kemampuan yang telah dimiliki sebelumnya dengan mengaplikasikan atau mewujudkanya dalam kehidupan. 
    Psikologi  humanistik digunakan dalam berbagai macam pendekatan seperti meningkatkan aktualisasi diri,  perkembangan diri dan menganggap manusia sebagai seseorang yang bisa mewujudkan kreativitas, spontanitas, pengalaman transendental yang tidak mendapat pendekatan dari psikologi sebelumnya yaitu psikologi behavioristis dan psikologi psikoanalisis yang memandang manusia dalam ‘’pandangan mekanis yang sub personal”, 
    Untuk itu dapat diambil pengertian bahwa Psikologi  humanistik berusaha mengkaji dan memahami segala sesuatu yang ada dalam diri manusia dan berhubungan dengan manusia itu sendiri, yaitu bagaimana perwujudan dan pengaplikasian eksistensi diri atau kemampuan subjektivitas, fungsi keseharian dan pengalaman-pengalaman manusia diwaktu lampau yang pada dasarnya sangat berperan penting dalam mempengaruhi kehidupan manusia.

Pengertian psikologi humanistik


    Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara  pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan  kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian.. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai.
   Psikologi humanistik adalah kekuatan ketiga setelah psikologi behavioris dan psikologi psikoanalisis, dimana psikologi humanistik mempelajari tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan eksistensi manusia, yaitu kemampuan manusia dalam mengaktualisasikan diri dan merealisasikan segala potensi yang ada pada diri manusia tersebut. Psikologi humanistik sangat ditentukan oleh eksistensi manusia. Dalam pemikiran eksistensial manusia dianggap bertanggung jawab atas proses kemenjadian.
  
Dengan kemampuan mengaktualisasikan diri dengan menunjukkan kemampuan atau potensi yang sebenarnya telah melekat pada setiap individu, yang merupakan latihan kebebasan yang membedakan manusia dengan yang lain, dalam hal ini manusia ditentukan oleh faktor lingkungan dan pengalaman-pengalaman yang terjadi pada masa dulu.

   Tokoh-Tokoh Humanisme
Ada beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran humanistik seperti: Combs, Maslow dan Rogers;
1. Abraham Maslow (1908 - 1970)
Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Beliau mengambil bidang studi psikologi di University of Wisconsin, dimana ia memperoleh gelar Bachelor tahun 1930, Master tahun 1931, dan Ph.D pada tahun 1934.
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan).
 Maslow berpendapat bahwa manusia terdorong untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dalam kehidupanya. Baik  kebutuhan yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Dalam teori psikologinya, yakni semakin besar kebutuhan yang diinginkan seseorang maka semakin serius dan bersungguh-sungguh dalam menyikapi sesuatu yang ingin dicapai.
2. Carl Ransom Rogers 
Carl Ranson Rogers dilahirkan di Oak Park, Illinois, pada tahun 1902 dan wafat di LaJolla, California, pada tahun 1987. Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya.
Rogers berpendapat bahawa menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para terapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien.
3. Arthur Combs 
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. 
Sifat  yang ada pada diri seseorang pada hakikatnya sangat beragam antara individu satu dengan yang lainya dan menyebkan kemampuan yang ada pada diri seseorang memiliki perbedaaan yang kental, untuk itu setiap individu tidak diperbolehkan melakukan pemaksaan kepada individu yang lain, akan tetapi harus mengerti dan memahami kemampuan atau potensi yang telah dimiliki dengan memberikan dorongan berupa meyakinkan kemampuan yang telah dimiliki oleh individu tersebut.
Combs memberikan lukisan persepsi diri dalam dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu.. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.



     Kelebihan dan kekurangan teori Humanistik
a.    Kelebihan:  Dapat melatih individu dalam pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan mengembangkan kemampuan dalam mengaktualisasikan potensi diri.
b.    Kekurangan: Manusia cenderung bersikap individual, keberhasilan sulit didapatkan karena tidak ada pendukung dari lingkungan.



DAFTAR PUSTAKA
Graham, Helen. Psikologi humanistik dalam konteks sosial, budaya dan sejarah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Jumat, 01 April 2016

TEKNIK-TEKNIK TERAPI PSIKOANALISIS

1.    Teknik talking cure (chimney sweeping)
Teknik talking cure yaitu teknik yang pertama Freud melakukan prakteknya bersama dokter Josep Breuer. Teknik ini dilaksanakan dengan membina hubungan baik dengan pasien-pasiennya. Dari hubungan baik itu Freud membiarkan pasiennya menceritakan semua pengalaman-pengalaman yang pernah dialami pasien dari masa lalu. Melalui talking cure ini semua isi hati yang membuat pasien kecewa dapat disalurkan sehingga hati pasien menjadi lega terbebas dari tekananan hati yang selama ini tidak bisa disalurkan keluar kepada orang lain.

2.    Katarsis (hipnosa)
Metode katarsis ini diperoleh dari dokter Josep Breuer. Metode hipnosa adalah sebuah metode untuk menjadikan pasien-pasien setengah sadar atau berkurang kesadarannya sehingga lebih mudah dilihat isi dari alam ketidaksadarnnya. Menurut dr. Breure berdasarkan metode katarsis itu telah terbukti adanya perkaitan antara ingatan-ingatan yang dilupakan dengan gejala-gejala histories. Sebagai arti gejala-gejala itu dapat dinyatakan setelah pasien dimasukkan dalam keadaan hipnosa. Jadi dalam metode katarsis yang diajarkan oleh Breure menurut pasien dihipnosis secara mendalam, karena hanya dalam keadaan hipnosa diperoleh sumber-sumber pataganis. Dalam menghadapi kasus berat, Bernheim berulang-ulang mengatakan bahwa sugesti adalah inti manifestasi hipnotisme dan hipnotis itu sendiri adalah hasil dari sugesti atau kondisi yang disugesti. Dalam keadaan bangun, dia juga lebih suka menggunakan sugesti yang juga akan memberi hasil yang sama dengan hipnosis.

3.    Metode asosiasi bebas (free assosiation)
Asosiasi bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisa. konsultan meminta kepada pasien agar menghapus pikirannya dari pemikiran dan renungan sehari-hari serta sebisa mungkin menyatakan apa saja yang terlintas dalam pemikirannya betapapun menyakitkan. Asosiasi bebas yaitu suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis dari masa lalu yang teramat lama. Jadi dalam metode asosiasi bebas ini pasien harus meninggalkan setiap sikap kritis terhadap fakta-fakta yang disadari dan mengatakan apa saja yang timbul dalam pemikirannya. Freud berkeyakinan bahwa hidup psikis sama sekali detirminis dalam arti bahwa tidak ada sesuatu pun yang kebetulan oleh karena asal pasien jujur maka dokter akan dapat menyelami pikiran yang bebas dari pasien.

4.    Penafsiran mimpi
Mimpi adalah suatu psikis dan karena hidup psikis dianggap sebagai konflik antara daya-daya psikis maka bisa diterima jika dapat menyatakan mimpi sebagai perwujudan suatu konflik. Mimpi sebagai keinginan tidak disadari yang muncul dalam kesadaran. Di dalam mimpi ada tiga bagian yang telah dikemukakan oleh Freud yaitu;
a. Telah diketahui bahwa materi-materi tertentu yang muncul dalam isi mimpi, yang setelah itu tidak bisa dikenali di alam sadar, adalah bagian dari pengetahuan dan pengalaman seseorang.
b. Sumber materi-materi untuk direproduksi dalam mimpi yang diambil adalah dari masa kanak-kanak.
c. Keanehan ingatan dalam mimpi yang paling luar biasa sekaligus paling sulit untuk dijelaskan adalah pada pemilihan materi yang akan diproduksi.

Dari kelima jenis teknik terapi ini saya lebih suka teknik katarsis karena telah terbukti adanya perkaitan antara ingatan-ingatan yang dilupakan dengan gejala-gejala histories, jadi terapi dengan menggunakan analisis katarsis sangat menarik untuk dilakukan pada terapis dan sangat mudah untuk diterapkan.

Sumber :

Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia

Sujanto, Agus, Lubis, Halem, Hadi, Taufik. 2006. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara

Feist, Jess & Feist, G. J. (2006). Theories of Personality, Sixth ed. Boston: Mc-Graw Hill.

Bertens, K. (2006). Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.