Latar belakang psikologi humanistik
Psikologi Humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an. Psikologi Humanistik berawal dari sebuah pemikiran yang dicetuskan oleh kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan, akan tetapi pisikologi ini mulai dikenal atau digunakan sekitar tahun 1958 oleh john cohen.
Psikologi humanistik merupakan cabang psikologi yang beperan sebagai kekuatan ketiga setelah behaviorisme dan psikoanalisis. Psikologi humanistik pada dasarnya lahir sebagai kritik terhadap psikologi yang lebih menekankan pada faktor ekstenal (behaviorisme) dan tidak sadar (psikoanalisis). Psikologi humanistik beranggapan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan tidak hanya bepedoman pada perilaku luar atau yang bersifat objektif, akan tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku yang besifat subjektif yang ada pada etiap individu seperti pengalaman batin, sifat-sifat individu,keyakinan, kepercayaan yang ada dalam dirinya, selain itua psikologi humanistik lebih menekankan teori kemanusiaan atau aktualisasi manusia yaitu dengan memaksimalkan kemampuan yang telah dimiliki sebelumnya dengan mengaplikasikan atau mewujudkanya dalam kehidupan.
Psikologi humanistik digunakan dalam berbagai macam pendekatan seperti meningkatkan aktualisasi diri, perkembangan diri dan menganggap manusia sebagai seseorang yang bisa mewujudkan kreativitas, spontanitas, pengalaman transendental yang tidak mendapat pendekatan dari psikologi sebelumnya yaitu psikologi behavioristis dan psikologi psikoanalisis yang memandang manusia dalam ‘’pandangan mekanis yang sub personal”,
Untuk itu dapat diambil pengertian bahwa Psikologi humanistik berusaha mengkaji dan memahami segala sesuatu yang ada dalam diri manusia dan berhubungan dengan manusia itu sendiri, yaitu bagaimana perwujudan dan pengaplikasian eksistensi diri atau kemampuan subjektivitas, fungsi keseharian dan pengalaman-pengalaman manusia diwaktu lampau yang pada dasarnya sangat berperan penting dalam mempengaruhi kehidupan manusia.
Pengertian psikologi humanistik
Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian.. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai.
Psikologi humanistik adalah kekuatan ketiga setelah psikologi behavioris dan psikologi psikoanalisis, dimana psikologi humanistik mempelajari tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan eksistensi manusia, yaitu kemampuan manusia dalam mengaktualisasikan diri dan merealisasikan segala potensi yang ada pada diri manusia tersebut. Psikologi humanistik sangat ditentukan oleh eksistensi manusia. Dalam pemikiran eksistensial manusia dianggap bertanggung jawab atas proses kemenjadian.
Dengan kemampuan mengaktualisasikan diri dengan menunjukkan kemampuan atau potensi yang sebenarnya telah melekat pada setiap individu, yang merupakan latihan kebebasan yang membedakan manusia dengan yang lain, dalam hal ini manusia ditentukan oleh faktor lingkungan dan pengalaman-pengalaman yang terjadi pada masa dulu.
Tokoh-Tokoh Humanisme
Ada beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran humanistik seperti: Combs, Maslow dan Rogers;
1. Abraham Maslow (1908 - 1970)
Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Beliau mengambil bidang studi psikologi di University of Wisconsin, dimana ia memperoleh gelar Bachelor tahun 1930, Master tahun 1931, dan Ph.D pada tahun 1934.
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan).
Maslow berpendapat bahwa manusia terdorong untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dalam kehidupanya. Baik kebutuhan yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Dalam teori psikologinya, yakni semakin besar kebutuhan yang diinginkan seseorang maka semakin serius dan bersungguh-sungguh dalam menyikapi sesuatu yang ingin dicapai.
2. Carl Ransom Rogers
Carl Ranson Rogers dilahirkan di Oak Park, Illinois, pada tahun 1902 dan wafat di LaJolla, California, pada tahun 1987. Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya.
Rogers berpendapat bahawa menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para terapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien.
3. Arthur Combs
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.
Sifat yang ada pada diri seseorang pada hakikatnya sangat beragam antara individu satu dengan yang lainya dan menyebkan kemampuan yang ada pada diri seseorang memiliki perbedaaan yang kental, untuk itu setiap individu tidak diperbolehkan melakukan pemaksaan kepada individu yang lain, akan tetapi harus mengerti dan memahami kemampuan atau potensi yang telah dimiliki dengan memberikan dorongan berupa meyakinkan kemampuan yang telah dimiliki oleh individu tersebut.
Combs memberikan lukisan persepsi diri dalam dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu.. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
Kelebihan dan kekurangan teori Humanistik
a. Kelebihan: Dapat melatih individu dalam pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan mengembangkan kemampuan dalam mengaktualisasikan potensi diri.
b. Kekurangan: Manusia cenderung bersikap individual, keberhasilan sulit didapatkan karena tidak ada pendukung dari lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Graham, Helen. Psikologi humanistik dalam konteks sosial, budaya dan sejarah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
TERIMA KASIH ILMUNYA KAK
BalasHapushttp://http%3A%2F%2Fblog.binadarma.ac.id%2Firman_effendy.wordpress.com